Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2009

Syukuran RKB SMK Bima

PEMALANG (wartapantura) – Sejumlah pengurus yayasan, guru dan komite hadir dalam acara syukuran dalam rangka penggunaan 3 ruang kelas baru (RKB) di Aula SMK Bima Jalan Mandala, Mulyoharjo Pemalang, Sabtu (5/9) lalu Pada acara yang juga diikuti sejumlah siswa ustadz H Sumaryadi, menyampaikan bahwa upaya yang ditempuh dalam rangka meningkatkan eksistensi pendidikan kejuruan di SMK Bima telah membuahkan hasil nyata yang patut disyukuri. Keberhasilan yang ada tidak semata pada sarana fisik namun juga meningkatnya mutu pembelajaran sekaligus sumberdaya manusia yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Tak kalah pentingnya, menurut dia, meningkatnya eksistensi dan kelengkapan sarana fisik yang ada telah mendukung upaya pencitraan diri SMK Bima. Diharapkan kedepan selesainya pembangunan RKB turut mendorong peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan di sekolah ini.

Kepala SMK Bima Pemalang, Drs Agus Uripto, menjelaskan, dengan rampungnya pembangunan 3 RKB berarti telah dimiliki 9 ruang belajar bagi 318 siswa yang ada termasuk 128 siswa baru di kelas X. Biaya pembangunan RKB berlantai dua merupakan bantuan pemerintah melalui APBN 2009 dan swadaya internal yang keseluruhan mencapai Rp 400 juta. Ditambahkan, SMK Bima memberikan pembekalan keterampilan kepada siswa didiknya melalui 3 jurusan. Masing-masing jurusan pemasaran, akuntansi dan teknologi komputer jaringan (TKJ) Acara syukuran pembangunan 3 RKB dilanjutkan dengan sholat magrib , buka puasa dan sholat tarawih. (ruslan nolowijoyo)

Minggu, 30 Agustus 2009

Wujudkan Pemalang Cerdas Perlu Kerja Keras


PEMALANG wartapantura – Perwujudan Kabupaten Pemalang Cerdas hanya akan menjadi kenyataan dengan kerja keras. Tanpa itu semua hanyalah harapan diangan-angan. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Pemalang, Drs Sapardi, MSi menyampaikan hal itu di ruang kerjanya Jumat (28/8). Kerja keras yang dia maksudkan perlu pula disertai etos kerja cerdas, kerja bersama dan keikhlasan. “Dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja sama dan ikhlas, niscaya harapan mewujudkan Pemalang Cerdas akan menjadi kenyataan,” urainya menjelaskan. Untuk menyiapkan format 4 kiat tersebut bisa dimulai dengan mewujudkan iklim yang kondusif sejuk dan menyenangkan di jajaran pendidikan mulai dari tingkat dinas UPPK hingga sekolah-sekolah sebagai unit pendidikan. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah pelayanan kepada masyarakat di bidang pendidikan harus maksimal, dengan mengoktimalkan semua potensi sesuai dengan tupoksi masing-masing. Dalam konteks ini Sapardi mencontohkan keberadaan pengawas pendidikan yang harus melaksanakan tugas pengawasan. “Pengawas harus sesuai tugasnya tidak hanya datang ke sekolah dan ketemu kepala sekolahnya, lalu pulang. Tetapi mengawasi semua aspek termasuk cara mengajar guru,” tegasnya.

Disampaikan lebih jauh Sapardi, berkaitan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan, guru mempunyai tugas pokok bimbing, ajar dan latih. Dimana kaidah seorang profesional harus dilaksanakan dengan baik. Sementara itu kepala sekolah melaksanakan tugas sebagai edukator, motivator sekaligus inovator. Berkaitan dengan hal tersebut, lengkap dia, sumberdaya manusia yang ada yakni tenaga pendidik dan kependidikan, harus dioptimalkan agar menjadi seumberdaya yang bermutu dan profesional. Sebab, kunci keberhasilan dalam pendidikan adalah sumberdaya manusianya disamping stake holders yang lainnya. wartapantura/ruslan nolowijoyo

Senin, 24 Agustus 2009

Pelajar Kreatif Mengisi Liburan dengan Menyemir Sepatu

PEMALANG (wartapantura) - Bukan salah bunda mengandung sudah suratan tangan sendiri. Itulah yang dikatakan pepatah. Tetapi bagi Yudi (14) Anggi (12) dan Kartono (11) yang baru dua bulan lalu naik kelas, sama sekali tidak terkesan apapun dengan pepatah itu. Tidak merasa bersalah pula mereka dilahirkan dari keluarga pas-pasan sehingga setiap pulang sekolah harus berlari ke kota Pemalang untuk menjual jasa sebagai penyemir sepatu. Mereka selalu menampilkan wajah ceria, meski sebenarnya hatinya teriris pilu manakala menyaksikan anak-anak sebaya bersekolah diantar dengan kendaraan atau menikmati liburan bersama orang tuanya.

Sungguh menggugah semangat juang mereka. Ketiganya berasal dari keluarga tak berpunya di Desa Tambakreja Kecamatan Pemalang. Sama halnya puluhan anak sebaya asal desanya yang juga mencari selembaran uang receh dengan menyemir sepatu. Yudi Nugroho yang baru naik kelas 3 SMPN 6 Pemalang, terpaksa mencari uang sejak masih duduk di bangku kelas 5 SD beberapa tahun lalu. Ayah ibunya hanya seorang buruh kecil yang harus menghidupi dua anak. “Kalau liburan seperti sekarang kita senang bisa kerja dari pagi karena tidak masuk sekolah,” tuturnya polos. Yudi tinggal bersama orang tua dan adiknya yang masih kecil di lingkungan RW 03 Tambakreja. Senasib temannya Anggi yang duduk di kelas 6 SD dan Kartono yang di kelas 5. Ketiganya harus meninggalkan rumah dengan sepeda mini butut menuju Pemalang yang jaraknya sekitar 5 km. Kalau sedang mujur dalam sehari bisa mendapatkan Rp 10 ribu. “Tapi kalau sedang sepi kita hanya dapat Rp 5 sampai Rp 7 ribu saja,” tutur Anggi dan Kartono. Mereka terkesan lugu dan tanpa beban menyebut jumlah perolehan rupiah yang notabene tak seberapa banyaknya. Bahkan tak terbayang dalam benak mereka, kalaupun sepuluh atau lebih bocah penyemir sepatu pendapatannya dikumpulkan, masih belum cukup untuk membeli sekeping telepon genggam milik anak gedongan usia sebaya.

Pun Yudi dan dua karibnya tak tahu apa arti slogan sekolah gratis yang telah membumi lewat iklan televisi. Sebab untuk kelangsungan sekolahnya orang tua mereka tetap mengeluarkan dana meski dengan bersusah payah. “Kita kerja nyemir sepatu untuk membantu Emak,” tutur bocah polos itu dengan pengakuan menggugah saat diajak berbincang di sudut Alun-alun Pemalang, baru-baru ini. Sungguh menyentuh, sementara tangan terampil mereka cekatan menggosok sepatu, sesekali matanya melirik mobil mulus yang melintas atau anak-anak sebaya yang asyik menikmati liburan sekolah dengan berjalan-jalan ceria tanpa harus memikirkan bagaimana sulitnya mendapatkan secuil uang jajan. Untuk menyemir sepasang sepatu dengan waktu lebih sepuluh menit, mereka hanya memperoleh upah dua ribu perak. Sedangkan banyaknya anak penyemir telah membuat mereka saling bersaing dalam menjual jasa menyemir. Ketiga anak tak berpunya ini terbilang berotak cerdas ternyata. Kami ingin maju, kalau besar menjadi pintar dan mandiri, ungkap mereka. Yudi sendiri ingin melanjutkan ke SMA dan bercita-cita menjadi polisi. “Tapi tidak tahu bisa apa gak, wong orang tua gak punya,” tuturnya jujur sambil memasukkan lembaran ribuan kedalam sakunya. (wartapantura : ruslan nolowijoyo)

Tata Boga dan Otomotif Bekal Keterampilan Siswa SMKN I Petarukan

PEMALANG (wartapantura) - Kampus SMKN I Petarukan di areal sawah seluas lebih 2 hektar di Desa Pegundan Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang, tak jauh bedanya dengan umumnya unit sekolah baru (USB) di manapun. Tetapi di sekolah yang telah beroperasi sejak 2 tahun lalu dan kini memiliki 362 siswa didik yang terbagi dalam 10 rombel, siswanya serius mengikuti pembelajaran untuk mendapatkan keterampilan sebagai bekal hari esok. Semua siswa yang kini menduduki kelas XI dan XII mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) layaknya sekolah lain. Namun selebihnya sesuai kurikulum untuk sekolah kejuruan, mereka menekuni pembelajaran praktis bidang tata boga, mekanik otomotif dan mekanik industri. Melalui ketiga bidang studi tersebut menurut Kasek Dra Widayati Eny Lestari, diharapkan siswa didik SMKN I Petarukan mendapatkan kecakapan untuk bekal kedepan, sehingga mereka mampu bersaing mendapatkan peluang kerja di tengah persaingan yang makin ketat.

Berdasarkan kurikulum kejuruan yang ada siswa didik mendapatkan pembelajaran dari guru di ruang praktik yang tersedia lengkap dengan sarana dan fasilitasnya. Untuk mendukung program pembekalan ketrampilan ini sekolah mendapat bantuan sejumlah sepeda motor, minibus dan satu unit mobil station. “Dengan sarana mobil dan motor dari Pemkab itu para siswa berpraktek mekanik otomotif dibawah bimbingan guru praktek,” jelas Widayati kepada wartapantura di ruang kerjanya, Senin (24/8) lalu. Menurut dia, untuk jurusan tata boga puluhan siswanya kini berpraktek kerja (PSG) di sejumlah hotel dan restoran di sepanjang Pantura. Diantaranya di rumah makan Pringjajar, Hoteng Sendangsari Batang dan Pringsewu Cirebon. Dengan berpraktek kerja secara langsung siswa akan menerapkan keterampilan yang didapatkan di sekolah, sehingga tidak canggung lagi apabila kelak terjun ke dunia kerja, jelasnya. Bagaimana dengan siswa jurusan mekanik otomotif. Tak jauh berbeda ternyata, dibawah bimbingan guru praktek berkompeten mereka tekun mengikuti pembelajaran. Dimulai dari pengenalan pada mesin kemudian mulai melakukan ‘bedah’ piranti mekanik hingga siswa bentul-betul memahami sekaligus menguasainya. Demikian halnya jurusan mekanik industri yang pelaksanaan pembelajarannya juga didukung sarana praktek memadai.

Meningkatnya minat masyarakat menyekolahkan anak di SMK nampaknya turut andil dalam peningkatan kualitas lembaga pendidikan formal kejuruan di Kabupaten Pemalang. Di SMKN I Petarukan yang berstatus sekolah baru pun menjadi pilihan masyarakat. Peserta didik baru yang bakal menjadi siswanya adalah mereka yang lulus test masuk dengan dukungan NEM SLTP yang dimiliki. Menurut Dra Widayati, penerimaan siswa baru menggunakan pembobotan dengan format 60 persen hasil test dan 40 persen NEM. Untuk tahun pelajaran 2009 sekarang ini, lengkap dia, SMKN I Petarukan menerima siswa baru sebanyak 6 rombel. (wartapantura : ruslan nolowijoyo)

Followers

Administrator

Ruslan Nolowijoyo Hengky Kik

My News Feed

Related Websites

 

Warta Pantura. Copyright 2009 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Hengky Scootman Converted into Blogger Template by Scootman