Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2009

Alumni SMAN I Angkatan 1982 dirikan Yayasan

PEMALANG (wartapantura) - Keluarga besar alumni SMAN I Pemalang angkatan 1982 telah membentuk tim kerja untuk menangani bidang sosial dan pendidikan sebagai bentuk kepedulian para alumni yang kini tersebar di berbagai daerah dan menggeluti bermacam profesi. Langkah tersebut dipandang perlu untuk diwujudkan mengingat tidak semua alumni 82 nasibnya beruntung. Prof. Agus Priono (46) salah seorang alumni SMAN I Pemalang 1982 mengungkapkan, pembentukan tim kerja tersebut atas pertimbangan niatan berbuat sesuatu yang positif kepada masyarakat dari rekan alumni yang saat ini telah sukses dalam karir. “Kami ingin teman-teman alumni 82 yang telah sukses berbuat sesuatu yang positif bagi masyarakat sehingga kami bentuk yayasan yang nantinya akan menangani bentuk kepedulian kami tersebut secara teknis.” terang dia di sela acara reuni di Gedung SLB Jl. DR Cipto Sirandu, Rabu (23/9). Lebih jauh dia menyampaikan, kepedulian dalam bidang sosial dan pendidikan tersebut akan dijadikan satu pilot proyek yang keberlangsungannya akan disengkuyung bersama para alumni 82.

Agus Priono lebih jauh mengatakan, kepedulian bidang pendidikan akan diberikan kepada anak-anak para alumni 82 yang nasibnya kurang beruntung dengan memberikan bea siswa kelanjutan studi. Upaya sama juga akan diberikan kepada alumni yang berprofesi sebagai pendidik maupun guru untuk mengikuti program studi S-2. “Untuk sementara ini kami akan melaksanakannya di lingkungan alumni,” terang dia. Ketika ditemui terpisah ketua panitia reuni Edi Cakra Math (47) mengungkapkan, jumlah alumni SMAN I Pemalang angkatan 1982 mencapai 556 orang. Mereka tersebar di berbagai daerah dan menekuni berbagai profesi. Akan tetapi, imbuhnya, tidak semua alumni berhasil dalam karir sehingga perlu mendapat perhatian terutama untuk kepentingan kelanjutan studi anak-anaknya. Menurut Edi, jumlah alumni 82 yang hadir dalam acara reuni mencapai 135 orang. Selain berprofesi sebagai pendidik maupun dosen perguruan tinggi terkenal, notaris, pengusaha, tidak sedikit alumni yang sukses menjadi pejabat maupun perwira militer. Perihal kepedulian sosial yang bakal dilaksanakan menurut Profesor Agus Priono, diantaranya memberikan santunan kepada alumni yang kurang mampu maupun yang menekuni kegiatan produktif untuk menafkahi keluarganya. “Jadi kita akan coba memberikan kail kepada saudara-saudara kami yang belum sukses dan menekuni usaha produktif,” jelasnya. (ruslan nolowijoyo)

Selasa, 15 September 2009

Ngabuburit di Alun-alun Pemalang

PEMALANG (wartapantura) – Layaknya di daerah lain selama bulan puasa tradisi ngabuburit atau menunggu saat berbuka puasa juga dilakukan masyarakat kota Pemalang di seputar Alun-alun. Tua muda besar kecil berdatangan ke lapangan yang dilingkari ruas jalur utama kota yang dilintasi berbagai kendaraan bermotor. Di Alun-alun orang akan menikmati suasana senja ketika sinar matahari kemerahan semburat di langit. Detik-detik menjelang bedug magrib ditabuh merupakan momen yang paling ditunggu. Orang pun sibuk membeli aneka tajilan, mulai dari minuman segar dan aneka penganan pembuka yang tentu lezat rasanya. Selain puluhan penjual minuman segar dan es buah, banyak pula pedagang menjajakan makanan untuk tajilan di seputar Alun-alun. Jika detik-detik yang dinanti telah lewat, maka sepi pula suasana jantung kota yang diterangi lampu warna warni itu.

Ngabuburit di Alun-alun Pemalang telah menjadi tradisi setiap bulan puasa. Tak hanya warga kota yang berdatangan, tetapi juga dari desa-desa sekitar. Bahkan tak jarang para musafir pun singgah di sana. Mereka akan melaksanakan ibadah sholat magrib di Masjid Agung, sebuah tempat ibadah umat Islam yang dibangun sejak ratusan tahun lalu. Maklum, Pemalang merupakan kota cantik di jalur pantura yang identik dengan jalur Daendels. Siapapun yang melintas tentu akan menyaksikan gemerlap seribu lampu di kota berusia 434 tahun itu. Bila siang hari, kendaraan yang ditumpangi akan meluncur di ruas jalan berhotmiks dengan boulevard pembelah jalan berhias aneka tanaman bunga. Mereka yang ngabuburit akan memilih tempat tongkrongan sesuai keinginan. Ada yang duduk-duduk di trotoar berpaving ada pula yang memilih bangku dan lesehan. Bagi anak-anak suasana Alun-alun tak bedanya dengan taman rekreasi yang menawarkan kegembiraan. Apalagi disitu tersedia sarana bergembira yang asyik dinikmati. Yaitu berbagai jenis kereta tumpangan dan odhong-odhong yang setiap saat siap mengantar mereka mengitari Alun-alun. (ruslan nolowijoyo)

Sabtu, 05 September 2009

Thamrin Sonata bukukan ‘Kemerdekaan’ Provinsi Banten


PEMALANG (wartapantura) - Thamrin Sonata (51) yang lama menghilang dari kampung halamannya ternyata sejak bulan Juni lalu ‘bersembunyi’ di Banten. Penulis buku ‘Tragedi Semanggi’ dan sejumlah buku laris itu bukan ingin mencari ‘ngelmu’ pada sesepuh atawa jawara. Melainkan dalam rangka penulisan buku memoar berdirinya Provinsi Banten. Dan tentunya dia harus berurusan dengan para tokoh, utamanya Drs H Aceng Ishaq, sang deklarator. Buku tentang memoar Banten itu sendiri menurut Thamrin bakal tersaji dengan kata pengantar Gubernur Hj Ratu Atut Chosiyah, SE. “Sejak dua bulan lalu saya mondar-mandir ke Pandeglang dan sekitarnya untuk ngumpulin data,” tutur seniman itu di sanggarnya Gang Dahlia, Pekunden, Pemalang, Senin (07/9) malam lalu. Untuk mendapatklan data bahan penulisan itu dia harus telusupan kian kemari disamping melakukan survey lapangan dan wawancara sejumlah nara sumber. Lalu mantan wartawan yang merantau ke ibu kota sejak tahun 80-an itu juga ngubek-ubek file di perpustakaan dan melototin layar internet lantaran sejarah berdirinya provinsi ke 30 tersebut juga beredar luas di dunia maya.

Memisahnya Banten dari Jawa Barat (Jabar) sangat menarik disimak. Menurut Thamrin daerah ini memiliki andil pemasukan relatif besar, yakni mencapai 35 persen, namun warganya masih banyak yang hidup miskin dan tertinggal meski mereka tinggal hanya selemparan batu jauhnya dari ibukota negara. ” Lebih jauh menurut dia, menengok ke belakang, Banten pun punya kekhasan : etnis Sunda yang keras, dan tidak tunduk kepada penjajah Belanda “Kita tentu ingat Sultan Ageng Tirtayasa – yang kemudian namanya digunakan sebagai Universitas Negeri wilayah itu,” ungkapnya. Hal lain yang tek mudah dilupakan adalah keberadaan Multatuli,atau Douwes Dekker, sorang Belanda yang membelot dan membela Indonesia. Kisah daerah ini juga tersurat dalam buku Saijah dan Adinda.. Lalu buku legendaries ‘Pemberontakan Kaum Petani Lebak 1888’ karya sejarawan UGM Prof. Sartono Kartodirdjo

Lebih jauh menurut Thamrin, pemisahan Banten tak lepas dari masa transisi: Era Reformasi. Saat penguasa Orde Baru Soeharto jatuh pada Mei 1998, seorang putera daerah Banten Ekky Syahruddin yang duduk di DPR RI menyebutkan : Inilah saat Banten memanfaatkan untuk bisa lepas dari Jabar. Ternyata diam-diam tantangan tersebut disikapi oleh Drs. Aceng Ishak, Ajat, dan Encep Embe dengan membuat spanduk : saatnya Banten mandiri dari Jawa Barat yang waktu itu gubernurnya N. Nuriana. Dan pencetusan dari Mandalawangi, Pandeglang itu terus menggelinding bak bola salju dimana rakyat tanpa diimingi-imingi uang, bergabung dan menyatakan dukungannya. Meski mereka belum mengerti, bagaimana caranya secara persis untuk “Merdeka!”. Tentu perjalanan pun tidak semudah.yang dibayangkan lantaran sebagian dari mereka merasa enak dengan tetap bergabung dengan Jabar. Bahkan di antara mereka menyebut, seperti diucapkan Aceng Ishak “Prov. Banten berdiri, itu hanya mimpi di siang bolong!” Namun akhirnya apa yang didambakan pun menjadi kenyataan. Di lapangan Banten Lama,’Deklarasi Banten’ dikumandangkan. Teksnya dibacakan oleh Aceng Ishak. Ribuan rakyat menghadiri acara bersejarah itu. Dan Provinsi Banten pun berdiri 4 Oktober 2000. Menjadi prov. Ke 30 di negeri tercinta ini

Menurut Thamrin, menjelang ulang tahunnya yang ke 9 buku memoar berdirinya Provinsi Banten merupakan tonggak bagi provinsi yang kaya sumber daya alam tersebut. “Disana ada emas, pertanian, dan pabrik-pabrik yang sudah berdiri semisal Krakatau Steel, Bandara Soekarno-Hatta, pelabuhan Bojanegara, dan Tengerang yang menggeliat pembangunannya.” Terang dia. Ditambahkan pula, kendati masih ada masyarakat masih hidup tradisional, misalnya yang dikenal dengan masyarakat Badui di Lebak Selatan, yang hidup dengan caranya yang khas. Provinsi ini punya keunikan potensi lain seperti halnya Badak Jawa bercula satu yang diduga tinggal 40 ekor saja di Ujung Kulon, Pandeglang. Sosok Thamrin Sonata sebenarnya bukan orang baru di dunia tulis menulis negeri ini. Sejak meninggalkan kota kelahirannya Pemalang sekitar tahun 80-an aktif menjadi wartawan di beberapa media ibu kota. Namun profesinya itu tak berumur panjang karena keasyikannya menulis Buku pertama ditulisnya adalah buku anak-anak pada 1981, menyusula kemudian belasan buku berhasil dia luncurkan. Seperti ‘Tragedi Semanggi’ dengan kata pengantar Prof DR Amien Rais, ‘UU Politik Buah Reformasi Setengah Hati’ dengan kata pengantar DR Andi Mallarangeng. Lalu yang terbaru ‘Bersama Mengeroyok SBY, Bisa?’ dengan pengantar Effendi Gozali, Ph,D. Dan di kampung halamannya sendiri dia juga menulis buku ‘HM Machroes dari Pegundan ke Pendopo’. Selain menulis buku ‘berbau’ politik, Thamrin juga menulis sejumlah novel dan kumpulan cerpen. Dari ketekunannya itu Thamrin pernah mendapat penghargaan atas kemenangannya dalam lomba. Diantaranya sebagai pemenang pertama lomba esai Universitas Islam Riau, pemenang lomba penulisan pariwisata Jakarta dan pemenang penulisan jurnalistik tentang properti yang diadakan Agung Sedayu.(Ruslan Nolowijoyo)

Followers

Administrator

Ruslan Nolowijoyo Hengky Kik

My News Feed

Related Websites

 

Warta Pantura. Copyright 2009 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Hengky Scootman Converted into Blogger Template by Scootman